Jejak Sejarah Caruban Nagari – Part 2

Minggu lalu, saya telah mengajak para tamu SS melihat-lihat istana tertua yang ada di Cirebon bernama Keraton Kasepuhan. Masih ada dua keraton lagi yang ingin saya tunjukkan.

Namun, sebelum menjejakkan kaki di sana, rupanya banyak yang protes karena saya – tetangga sebelahnya Ata – tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Maafkan ketidaksopanan saya, ya… *membungkuk hormat…

Nah, inilah ‘penampakan’ saya yang dibuat oleh Ata:

mirip ga? ^_^

Benar, nama saya Mida. Dua tahun terakhir saya berdomisili di Cirebon. Dan inilah tulisan pamungkas saya mengenai keraton-keraton di Cirebon sebelum saya benar-benar meninggalkan kota ini tahun depan dan kembali ke kampung halaman saya di Bandung *menghapus air mata…

Keraton Kanoman

Setelah mengalami perpindahan kekuasaan dari Sunan Gunung Jati sebanyak dua kali (tahta sempat dipangku Fatahillah dan Panembahan Ratu I), tahun 1649 Panembahan Girilaya dinobatkan menjadi Sultan di Kerajaan Cirebon. Sultan yang baru ini menikah dengan putri Sultan Agung Hanyakrakusuma (Amangkurat I)dari Kesultanan Mataram.

Kedekatan Sultan Cirebon dan Amangkurat I membuat Kerajaan Banten (yang merupakan ‘saudara sedarah’ dengan Kerajaan Cirebon) khawatir. Apalagi ketika Panembahan Girilaya ditahan di Mataram sehingga terjadi kekosongan pimpinan di Kerajaan Cirebon.

Hingga akhirnya, Sang Panembahan meninggal dunia dan dimakamkan di Bukit Girilaya, Jogjakarta, berdekatan dengan makam raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul. Kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya tidak diperbolehkan pulang.

Tampuk pimpinan diambil alih sementara oleh Pangeran Wangsakerta yang diangkat oleh Kerajaan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa – Raja Banten – memutuskan mengirimkan bantuan pasukan dan kapal perang pada Trunojoyo yang sedang memerangi Amangkurat I (musuh dari musuh adalah teman?). Pangeran Kartawijaya akhirnya dapat dibebaskan dan diangkat menjadi Sultan Cirebon.

Masalah kemudian timbul karena Pangeran Martawijaya – Sang Putra Mahkota – ternyata juga dipulangkan ke Cirebon. Agar tidak terjadi perselisihan, Kerajaan Cirebon kemudian dipecah menjadi dua bagian: Pangeran Martawijaya, bergelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin, memerintah di Keraton Kasepuhan dan sang adik Pangeran Kartawijaya, bergelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin, memerintah di Keraton Kanoman.

‘Sisa-sisa’ kejayaan Keraton Kanoman bisa kita temukan –seolah tersembunyi- di belakang pasar Kanoman yang ramai (dan… jujur aja, sedikit kumuh…). Bangunan-bangunan di area luar keraton bahkan dijadikan tempat istirahat para bapak yang sedang menunggu para nyonya selesai berbelanja di pasar 😀

Untuk ke keraton, harus 'menembus' pasar dulu

seperti istana yang terlupakan...

Secara umum, tata ruang Keraton Kanoman mirip dengan Keraton Kasepuhan, namun menurut petugas pemandu, luas kompleks Keraton Kanoman hanya 5 hektar. Oh iya, berbeda dengan Kasepuhan yang pemandunya resmi dan selalu stay tune, jika ingin memakai jas pemandu di Keraton Kanoman, kita harus minta dipanggilkan terlebih dahulu. Tiket masuknya terdapat di museum, bukan di luar.

Seperti halnya di Kasepuhan, di bagian luar keraton Kanoman terdapat ‘si kembar’ Pancaratna dan Pancaniti sebagai tempat menghadap Wedana dan tempat istirahat perwira.

Pancaniti (si bapak pengen ikut beken di SS :P)

Gerbangnya, meskipun masih berbentuk candi bentar ala Majapahit, namun dicat berwarna putih, bukan bata merah yang diekspose. Ciri khas taburan keramik China terdapat di sepanjang gerbang. Dulu, area gerbang sempat dicat warna salem (jadi keliatan aneh). Namun, ternyata saat saya berkunjung ke sana telah dicat menjadi putih kembali 😀

Dari luar, sudah terlihat bangunan Bale Manguntur dan Mande Sekaten. Sebenarnya masih ada bangunan kuno Cungkup Alu dan Cungkup Lesung, tapi saya lupa ngambil fotonya, hiks… (dasar amatiran!).

Area Lemah Duwur atau Siti Hinggil yang lebih tinggi ternyata cukup sempit, namun terdapat bangunan cantik bernama Bale Manguntur di tengahnya sebagai tempat duduk Sultan.

Bale Manguntur nan cantik

Lantainya berundak dua sehingga lebih tinggi. Sisi-sisinya terbuka dan melengkung, kembali dengan tempelan keramik-keramik Cina beraneka warna dan ukuran.

Kuatnya unsur Cina ini disebabkan salah satu istri Sunan Gunung Jati adalah Putri Ong Tien Nio dari Dinasti Ming. Kabarnya, salah satu temuan harta karun di Laut Jawa pertengahan tahun ini merupakan salah satu iring-iringan kapal pengantar Sang Putri ke Cirebon yang karam.

Memasuki halaman berikutnya, terdapat Bale Paseban sebagai tempat jika ada warga yang ingin menghadap raja. Bangunan sederhana tanpa dinding ini dikelilingi pagar kayu.

Bale Paseban yang sederhana

Di halaman yang sama, kontras dengan kesederhanaan Bale Paseban, terdapat sebuah pintu megah berbentuk paduraksa (sejenis bangunan gapura yang memiliki atap penutup yang menghubungkan kedua sisi bangunan pembatas) dengan sentuhan gaya Eropa bernama Gerbang Seblawong. Tingginya 9 meter, lebar 4.8 meter dan tebalnya 2 meter.

Pintu jati Seblawong hanya dibuka saat Maulid Nabi SAW

Bangunan utama keraton berada di halaman selanjutnya. Di halaman ini terdapat pula Museum kereta dan benda-benda kuno.

Mande Singabrata terletak di sebelah timur, berfungsi sebagai tempat jaga perwira keraton. Saat saya berkunjung ke sana, tempat ini sedang digunakan sebagai tempat latihan tari tradisional.

Dan di sebelah barat, terdapat Mande Semirang sebagai tempat bermusyawarah.

Mande Singabrata

Tembok luar Mande Semirang dihiasi batuan karang dari Laut Jawa

Museum kereta dan berbagai benda bersejarah terletak dekat Mande Singabrata.

Museum

Kereta Sultan bernama Paksi Naga Liman dari kayu sawo

Replika Kelapa Jenggi, kelapa langka yang konon dibawa Laksamana Cheng Ho

Bangunan lain yang ada di area ini adalah Gajah Mungkur sebagai tempat menyimpan lonceng (dibunyikan pada hari-hari besar tertentu) dan Langgar Agung (semacam musala tempat Sultan dan keluarganya melaksanakan salat)

Gajah Mungkur

Gerbang menuju Langgar Agung

Langgar Agung sudah dikeramik 🙂

Bangunan utama adalah Jinem (berasal dari kata puji ing gunem yang artinya kebaikan dalam berbicara). Di bangsal inilah Sultan menemui tamu-tamu penting. Di bagian dalamnya terdapat singgasana.

Bagian luar Bangsal Jinem (ada mobil Mercy milik salah seorang pangeran terparkir di halaman... Pangerannya mana ya? Mw digebet :P)

Tempat menerima tamu-tamu kehormatan Sultan

Ruang singgasana ternyata tidak semegah yang saya kira. Dihiasi lampu-lampu kristal ala Eropa, singgasana diapit oleh dua karya seni (lengkap dengan batu karang dari Laut Jawa) di tembok yang menggambarkan kekuasaan Sultan.

Keraton Kacirebonan

Perpecahan berikutnya yang terjadi di Kesultanan Cirebon ikut ditunggangi kepentingan Belanda. Jika membaca versi Wikipedia, terkesan bahwa putera Sultan Anom IV, bernama Pangeran Raja Kanoman, ingin memberontak pada ayahnya dengan mendirikan kesultanan sendiri.

Tetapi saya lebih tertarik pada versi lain yang menyebutkan bahwa Sang Pangeran dimusuhi oleh Belanda karena sikapnya yang memberontak. Oleh karena itu, Pangeran sempat dibuang ke Ambon. Sultan yang naik tahta atas sepersetujuan Belanda adalah Abu Sholeh Imaduddin, putera Sultan Anom IV yang lain. Beliau bergelar Sultan Anom V.

Sebuah versi lain menyatakan bahwa Pangeran Raja Kanoman dan Sultan Anom V merupakan anak kembar… (wew :D).

Ketiadaan Pangeran Raja Kanoman ternyata malah menyulut kemarahan rakyat. Untuk meredam hal ini, maka Daendels memutuskan agar Pangeran Raja Kanoman dijemput kembali dan dilantik menjadi Sultan baru yang berkuasa di Keraton Kacirebonan.

Namun, untuk membatasi kekuasaan kesultanan baru, surat keputusan Daendels menyatakan bahwa yang berhak atas gelar Sultan hanyalah Pangeran Raja Kanoman, sedangkan keturunannya hanya berhak menyandang gelar Pangeran.

Karena nyaris tak memiliki daerah kekuasaan, Keraton Kacirebonan tidak memiliki arsitektur megah layaknya sebuah istana raja. Bangunannya bahkan lebih mirip rumah pembesar zaman kolonial Belanda. Luas lahannya kira-kira 46.500 m2.

Berikut foto-foto yang saya ambil saat mengunjungi Keraton ini bulan Oktober lalu:

Gerbang cenderung polos - hanya sedikit ornamen keramik Cina di sini

Pelataran dan bangunan terlihat bersih dan apik

tempat menerima para tamu pangeran, didominasi warna hijau

Memasuki ruang dalam keraton, serasa ditarik ke masa lalu...

koleksi benda antik milik keraton, cenderung kurang terawat 😦

Koleksi batik, ada yang umurnya lebih dari seratus tahun lho!

'Leluhur' dispenser dari London 😀

Nah, selesai sudah tugas saya mengantar para sahabat SS jalan-jalan ke tiga keraton yang ada di Cirebon. Insya Allah minggu depan, pemilik rumah segera kembali untuk temu kangen dengan para penggemar 😛

Terima kasih banyak… *membungkuk*
Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan.

Iklan
Categories: Uncategorized | 21 Komentar

Navigasi pos

21 thoughts on “Jejak Sejarah Caruban Nagari – Part 2

  1. Salam
    dapat PERTAMAXX Nih…
    makasih dah di ajak jalan-jalan
    cihuiii seneng liat2nya….

  2. mida

    Makasih juga Mbak Tetik, udah mau diajak panas-panasan di Cirebon 😀
    Salam kenal…

  3. Midaaaaa, sketsanya Ata siyh mirip banget..

    tapi.. tapi…

    Bundo lebih suka Mida yang chubby dan keliatan yang gigi kelincinya.. minta Ata bikin sketsa lagi yaaa.

    😀

    • mida

      Wew, itu kurang chubby ya Bundo? Kalo diliatin gigi kelincinya takut dicabut sama Bundo dentist yang cantik, wkwkwk… 😛 *kabur

  4. Aura mistisnya itu lho 😀

  5. hai Mida..
    salam kenal yah 🙂

    anw pohon beringgin di Keraton Kanoman, ngingetin keraton Jogja 🙂

    • mida

      salam kenal juga Mbak Eka… ^_^

      iya, ya… baru nyadar soal kesamaan pohon beringinnya, hehe… 😀

  6. Salam kenal mida, sayang betul ya, kok keraton di belakang pasar

    • mida

      Salam kenal, Bu Monda… ^_^
      Iya, memang agak susah untuk memindahkan pasar, banyak kepentingan yang terlibat soalnya 🙂
      Padahal keraton Kanoman bisa jadi objek wisata yang menarik selain Kasepuhan…

  7. Saya belum pernah ke keraton Kanoman. Bangunannya dicat putih, kelihatan cantik ya (meskipun jadi nggak asli). Gerbang Seblawong itu keren sekali. Tapi yang paling keren adalah gambar kucing pink di akhir tulisan. Cewek kok berkumis ya … hihihi …

    Sketsa Ata? Nggak usah dikomentarin lagi …. sip dah pokoknya 🙂

    • mida

      Iya, dicat putih sih bagus, Bunda… Dulu pas dicat warna salem, aihhh… aneh banget 😀

      Bunda Tuti dapet salam dari kucing cewek berkumis 😛

  8. met tahun baru kawan
    senang dapat post yg menarik
    salam hangat dari blue

  9. Ping-balik: Liburan akhir tahun ke 4 kota « Kisahku

  10. wah kalau sudah menyangkut sejarah gini ane jadi suka nih hihihi

  11. lengkap bgt yah. brasa dateng liat sndiri.

    salam knal mas ata,

    mhon do’a jg atas kabar duka di http://kakmila.wordpress.com/2011/01/04/semangat-sembuh-untuk-sausan/

  12. nitnot96

    ini sebagai bukti…cinta budaya asli indonesia…

  13. lama ok ga mampir disini tiba-tiba…*hening*… kenapa “saya” yg ada disini = mida = wanita…bukannya ata itu pria??
    salam kenal mbak mida 😀 nanti diajak jalan2 sambil traktir makan ya hehehehe…

  14. rupanya Mida yang nulis toh… cantik tulisannya secantik yang nulis. Sketsanya juga cantik kok.
    Aku seneng liat foto-foto bagiamn dalam kraton, kayaknya sejuk ya, dengan lantai keramik gitu

    EM

  15. Ping-balik: Liburan akhir tahun ke 4 kota | Kisahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: