Jejak Sejarah Caruban Nagari

Halo sahabat SS sekalian, apa kabar?

Bukan, saya bukan Ata… (saya nggak ganteng dan juga nggak berjenggot :D). Pemilik blog ini sedang nyuci popok di belakang sibuk bergembira dengan si cantik nan shalihah yang baru hadir ke dunia beberapa hari yang lalu. Jadi, untuk sementara, saya yang bertugas menyambut para tamu hingga tuan rumah kembali.

Perkenalkan, saya tetangga sebelah ^_^. Sebenarnya saya datang kemari untuk berpamitan liburan sama Ata sambil nitip kunci. Ternyata, malah disuruh jagain rumah dulu…

Nah… Baiklah, daripada kita semua bengong, izinkan saya untuk bercerita tentang tiga buah istana yang ada di sebuah negeri dongeng bernama Caruban Nagari.

Kerajaan ini pada mulanya berupa dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Kepala Pelabuhan Muarajati ini memiliki seorang putri nan cantik jelita bernama Nyai Subanglarang. Putri ini kemudian dipersunting oleh Raja Pajajaran yang berkuasa pada waktu itu: Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Dari pernikahan ini, lahir seorang pangeran bernama Raden Walangsungsang alias Prabu Kiansantang. Namun, meskipun ia putera raja, sang Pangeran tak mendapatkan haknya menduduki tahta Kerajaan Hindu Pajajaran karena memeluk agama Islam.

Oleh karena itu, sepeninggal Ki Gedeng Tapa, ia membangun Istana Dalem Agung Pakungwati dan membentuk sistem pemerintahan sendiri dengan bergelar Pangeran Cakrabuana. Pakungwati diambil dari nama putrinya, yaitu Ratu Dewi Pakungwati yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Reruntuhan Taman yang dulunya Taman Istana Pakungwati

Di balik tembok inilah dulu Istana Pakungwati berada. Wanita dilarang masuk???

Istana Pakungwati pertama inilah yang merupakan cikal bakal Keraton Kasepuhan di Caruban Nagari atau yang sekarang kita kenal dengan nama Cirebon. Kompleks Keraton Kasepuhan sendiri mulai dibangun pada tahun 1529 dan memiliki dua buah gerbang: Gerbang Mayor di sebelah utara disebut Kreteg Pangrawit dan Gerbang Minor di selatan disebut Lawang Sanga. Seperti layaknya model keraton yang di pesisir Jawa pada masa itu, Keraton Kasepuhan menghadap utara, dengan Alun-alun Sangkala Buana terletak di depannya dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun di sebelah baratnya. Luasnya kira-kira 16 hektar (termasuk alun-alun dan masjid).

Sebuah ulasan dari Kompas edisi cetak 4 Juli 2009 sempat memuat denah Kasepuhan dalam gambar yang mudah dimengerti. Sayang, sumber gambar yang saya dapatkan kurang jelas…

Kereteg Pangrawit ternyata berupa jembatan yag kini dihotmix  (kereteg = jembatan). Konon, dulunya jembatan ini bisa dinaik-turunkan (mungkin mirip jembatan di benteng atau kastil Inggris gitu kali, ya…). Di samping Kereteg Pangrawit, sebelah barat, terdapat Pancaratna, tempat menghadap para pembesar desa yang diterima oleh Demang atau Wedana. Sejajar dengan Pancaratna, di sebelah timur terdapat Pancaniti, tempat berkumpulnya para perwira keraton.

Kereteg Pangrawit dan Pancaratna. Kumuh ya?😦

Di bagian berikutnya, kita akan memasuki sebuah kompleks bernama Siti Hinggil (= tanah yang tinggi – letaknya memang lebih tinggi dibanding sekitarnya) yang dikelilingi bata merah berbentuk candi bentar khas Majapahit. Bedanya, terdapat ‘taburan’ keramik Cina di seluruh pagar dan gapura yang merupakan ciri khas Cirebon. Gerbang utara bernama Gapura Adi dan di selatan bernama Gapura Banteng yang ukurannya lebih besar dari Gapura Adi.

Gapura Adi

Gapura Banteng melambangkan kekuatan

Terdapat 5 Mande di dalam kompleks Siti Hinggil (mande = tempat duduk-duduk, nah kalo Bundo NakJadi Mande apaan dunk, hihihi… *piss, Bundo :D). Yang terbesar, terletak di tengah, bernama Mande Malang Semirang sebagai tempat duduk Raja menyaksikan latihan keprajuritan setiap Sabtu (Saptonan). Mande ini bertiang utama 6 (melambangkan rukun iman) dan jumlah tiang keseluruhan adalah 20 (melambangkan sifat-sifat Allah SWT).

Mande Malang Semirang

Mande Malang Semirang diapit dua bangunan lebih kecil, yaitu tempat duduk pengawal raja Mande Pendawa Lima (bertiang 5, melambangkan rukun Islam) dan tempat duduk penasehat raja Semar Tinandu (bertiang 2, melambangkan syahadat).

Mande Pendawa lima

Mande Semar Tinandu

Di belakangnya, terdapat Mande Karesmen (tempatnya crew gamelan) dan Mande Pengiring (tempat duduk para kerabat atau pengiring raja).

Mande Pengiring beratap tumpang sari

Melewati Pintu Regol Pengada, kita akan memasuki Halaman Kemandungan yang luasnya 37 x 37 m2. Di sebelah timur Regol Pengada, ada sebuah gerbang lagi yang sudah tidak digunakan bernama Gapura Lonceng yang berbentuk koriagung (gapura beratap). Di halaman ini ada sebuah sumur yang airnya sempat digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka Keraton. Juga sebuah bangunan Langgar Agung tempat shalat Sultan dan para kerabatnya.

Regol Pengada

Gapura Lonceng. Lho, mana loncengnya?😀

Sumur Kemandungan

Langgar Agung

Melewati Langgar Agung, kita menuju gerbang berikutnya yaitu Pintu Gledeg (saking beratnya, pintu ini mengeluarkan bunyi gemuruh keras saat menutup dan membuka, sehingga dinamakan ‘gledeg’ alias guntur). Dan di halaman inilah terdapat bangunan induk keraton yang mula-mula merupakan Istana Pakungwati yang baru.

Pintu Gledeg

Memasuki pelataran, kita akan disambut sebuah taman cantik bernama Taman Bunderan Dewandaru. Di taman ini, terletak patung kecil Nandini (berbentuk lembu dari kebudayaan Hindu), meja batu hadiah dari Raffles, meriam dari kerajaan Galuh-Pakuan dan patung si meong kembar alias dua macan putih yang berdiri di atas Gunungan sebagai simbol bahwa Kerajaan Cirebon merupakan keturunan Pajajaran.

meja batu dan patung nandini

Kalo macannya nambah satu jadi trio macan ya?

Dulu, sebelum bertemu Raja, kita harus menuju bangunan Lunjuk (= petunjuk) yang merupakan tempat informasi🙂. Di seberang Lunjuk, ada Sri Manganti (Sri = raja, Manganti = menanti) sebagai ruang tunggu. Di kedua sisi ini pula terdapat Museum Benda Kuno dan Museum Kereta.

Sri Manganti (kiri) dan Lunjuk (kanan)

Kereta Singa Barong koleksi Museum Kereta

Beberapa koleksi Museum Benda Kuno. Lantainya dipel ga ya?

Nah, barulah kita menuju bangunan utama keraton. Bagian luarnya dihiasi Kutagara Wadasan, sebuah gapura bercat putih dengan kaki gapura berukiran wadasan dan atasnya berukir motif mega mendung khas Cirebon. Kita tidak akan memasuki keraton melalui serambi Jinem Pangrawit (untuk menerima tamu kerajaan), melainkan melalui sebuah pintu samping bernama Buk Bacem.

Bagian luar bangunan induk keraton

Pintu Buk Bacem

Ruangan yang langsung kita temui adalah Bangsal Pringgandani yang dilengkapi kursi-kursi bergaya Eropa (namun terbuat dari rotan dilapisi beludru) dari tahun 1738 serta sepasang lemari kaca (biar tamu yang hobi nyisir kayak yang punya blog😛 bisa ngaca dulu sebelum ketemu Raja).

Bangsal Pringgandani

Bangsal ini dihubungkan dengan bagian depan keraton oleh semacam koridor bernama Gajah Nguling yang dihiasi 6 buah tiang Tuscan. Uniknya, bangsal ini menyerong, dibuat seperti belalai gajah sedang menguak (nguling). Kondisi ini dimaksudkan agar musuh dari depan tidak langsung berhadapan dengan singgasana.

Koridor Gajah Nguling yang menyerong

Singgasana Gading Gilang Kencana sendiri terdapat di dalam bangsal Agung Panembahan. Letaknya satu meter lebih tinggi dari bangsal Pringgandani dan Prabayasa. Di belakang singgasana, terdapat partisi dihiasi kain 9 warna (melambangkan 9 wali songo). Pemandu keraton mengatakan di belakang partisi terdapat tempat tidur Raja. Tatanan interiornya tidak berubah dari tahun 1529. Pengunjung tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan singgasana ini.

Bangsal Prabayasa

Singgasana terletak lebih tinggi

Di sebelah kiri dan kanan ruang singgasana, terdapat tembok dekoratif yang mencolok dengan relief bernama Kembang Kanigaran. Ukiran di tengah, berbentuk bunga teratai yang jumlahnya melambangkan rakaat shalat. Terdapat juga dua ekor burung yang melambangkan rasa aman dan perlindungan, delima melambangkan keikhlasan dan manggis melambangkan kejujuran.

Pemandu sedang menjelaskan relief di dinding

Di sekelilingnya, terdapat keramik dari Belanda. Keramik biru Delft menggambarkan pemandangan dan keramik berwarna cokelat berisi kisah dari kitab Injil. Kalau diperhatikan, kisah ini ditempel secara acak, ada yang tau kenapa?

'Perbatasan' antarkeramik dibentuk kubah masjid

Hwaaah… kepanjangan… *ngelap keringat… Mudah-mudahan ga pada ketiduran, hiks…

Kalau begitu, kita istirahat dulu, ya! Minggu depan, insha Allah kita lanjutkan menuju dua istana yang lain.

See ya! ^_^

Categories: Uncategorized | 42 Komentar

Navigasi pos

42 thoughts on “Jejak Sejarah Caruban Nagari

  1. apa mungkin disusun acak karena ada gambar2 pemandangan yg cocok ama kitab injil?

    Btw penasaran deh, apakah sejarah caruban nagari ini ada kisah wayangnya gak yah?😀

    Suka ama istananya… entah kenapa suka aja.
    Andai ada yg bangunin istana gitu buatku.. aku kan juga cantik jelita :)) #tangkis lemparan2 sandal yg berterbangan :))

    • tetangga_sebelah

      halo, Mbak Eka…
      Ada dua versi tentang pemasangan keramik secara acak ini, secara sengaja dan tidak sengaja… tapi agak panjang penjelasannya, hehe…

      Setau saya, kisah sejarah Cirebon ga ada kisah wayangnya (cmiiw), bahkan di buku-buku sejarah pun biasanya hanya diceritakan sedikit, padahal menarik banget…

      Mudah2an ‘pangerannya’ Mbak Eka baca komen di atas😀

  2. Punten, ini nyonya rumah sementaranya kok nggak pake memperkenalkan diri ya?😮 . Tapi aku bisa nebak kok. Kalau nggak si Anu, pasti si Ini, atau si Una …😀

    Saya pernah ke Keraton Kasepuhan, tahun 2009. Laporannya juga sudah saya posting di http://tutinonka.wordpress.com/2008/11/10/keraton-kasepuhan/

    Menurut saya, yang unik dari Keraton Kasepuhan adalah hiasan piring cina yang banyak ditempelkan di dinding. Dan seperti kata Eka, ada beberapa piring yang bergambarkan Yesus (mungkin piring dari Belanda).

    Ada juga lukisan tiga dimensi Sri Baduga Prabu Siliwangi, yang matanya kelihatan seperti mengikuti kemana kita bergerak. Satu lagi, sistem keamanan keraton adalah dengan menghamparkan kerikil di halaman depan, agar kalau ada orang datang bisa terdengar suara gemerisik langkahnya.

    Dinding pagar keraton dengan bahan bata merah, sama seperti kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur (misalnya Majapahit).

    Okeh … ditunggu sambungannya, Nyonya …😀

    Ohya, sketsa Sang Nyonya kok nggak diaplod, Ta?

    • tetangga_sebelah

      Koq ‘nyonya’, sih, Bunda?😛

      Betul, saya sebenarnya agak minder mau nulis ini karena Bunda Tuti pernah mengulas bangunan keratonnya dari sudut pandang seorang ahli… Sebenarnya saya lebih tertarik ke sejarahnya yang juga unik (tapi mau masukin banyak detail jadi kepanjangan postingannya…)

      Sengaja diaplodnya minggu depan sekaligus syukuran khatam postingan, hihihi…😀

  3. Wah… siapakah gerangan “sang tetangga” ini? Boleh kenalan gak? hehehe…🙂

    Awalnya saya kira daerah Caruban di Jawa Timur, ternyata Cirebon tho, hehehe… dasar wawasannya cetek…🙂

    Terima kasih sekali atas tulisan ini, saya jadi mengetahui sedikit banyaknya tentang sejarah Caruban Nagari ini…

    Salam buat Ata ya, kalaupun dia pergi lama-lama juga gak apa-apa, kita duduki saja “singgasananya” ini…😀

    • tetangga_sebelah

      Boleh dunk, Uda… Salam kenal ya…

      Caruban memang diambil dari Bahasa Jawa yang berarti ‘campuran’ karena Cirebon penduduknya terdiri dari campuran banyak etnis (Sunda, Jawa, Cina, Arab).

      Wah, Uda mau kudeta ya? Bilangin Ata lho, hehe…😀

  4. duh biasanya ada sketsa penulisnya..
    Ata pasti sibuk banget niyh😀

    Caruban Nagari..
    kata Nagari sangat lazim dipakai di ranah minang.
    disini gak ada kepala Desa, adanya Wali Nagari
    Nagari = Desa.

    makasi sharingnya mBak.. mudah2an suatu saat sempat ke sana.🙂

    • tetangga_sebelah

      Ada koq sketsanya Bundo… tapi saya umpetin dulu…😛

      Iya, saya juga sempat terpikir ke sana waktu menemukan kata Caruban Nagari… Dan memang dulunya Caruban merupakan dukuh, mungkin akulturasi bahasa dan budaya melayu dari ranah Minang saat itu ikut berpengaruh ya Bundo… Perlu penelitian nih, hehe… *sok teu

      Amin… kalo ke sini saya traktir nasi jamblang deh…😉

      • ah ini pasti Neng Mida.. yang cantik, yang chubby kayak Bundo, yang gigi kelinci tapi imut.

        berani taruhan deh..😛

      • tetangga_sebelah

        Kalo Bundo menang taruhan, Ata dipaketin ke Bkt buat masakin pasta sambalado😀
        *dijitak Ata

  5. baru pernah ke istana ini aja, 2 yang lainnya belum,
    ditunggu ya cerita 2 istana lainnya

  6. tetangga_sebelah

    Keraton ini memang yang paling terawat, Bu Monda… Mungkin itu sebabnya Keraton Kasepuhan lebih banyak direkomendasikan untuk dikunjungi dibanding dua lainnya…

  7. saya juga pernah ke keraton kasepuhan sebab pernah di cirebon, wisata sejarah yang gak boleh dilewatkan ya

    • tetangga_sebelah

      Wah Mamah Aline pernah di Cirebon? Langganan Mang Dul ya? Hehehe…😀
      Iya, betul, rasanya ga afdol kalo ke Cirebon ga mengunjungi Kasepuhan…

  8. bangunanya kek pure di bali

  9. wah enak ada yang ngisin blog pas gi sibuk, hehe😀

  10. Tadinya dikira Ata yang jalan-jalan ke Cirebon, dan saya sendiri belum pernah melihat keraton Kasepuhan ini. Selama ini di Cirebon cuma numpang lewat aja.

    Btw, tetangga sebelahnya kok nggak dikenalin to Ata?

    • tetangga_sebelah

      Kapan-kapan mampir ya Bu… Kulinernya Cirebon juga asik buat dicoba lho… ^_^

      Duh, bukan salah Ata koq… Saya yang kurang sopan karena ga memperkenalkan diri… Di postingan minggu depan deh ya… hehe…

  11. Cukup menarik untuk dikunjungi apalagi kalau sudah dapat informasi seperti ini.
    Cirebon ya? Ok saya masukkan dalam daftar.
    Ma kasih infonya

  12. kau pandai menguak sejarah juga dik
    salam salut🙂

  13. sejarah yang bagus

  14. langsung scroll down karena penasaran dengan tetangga sebelah.. ga ketahuan je.. siapa??? (*_*)

  15. wah.. kereen jg sejarah keratonnya cirebon. sayang blm pernah sekalipun menginjak kota itu hikss..

  16. tetangga_sebelah

    Kapan-kapan maen ke sini ya nancy… Biar kita bisa kenalan dan jalan-jalan bareng… ^_^

  17. waaah lengkap bener deh keterangannya. Tapi ya itu ngga tahu siapa yang nulis.
    Emang sih kalau punya rumah, ngga dipakai bisa berlumut, jadi lebih baik kasih kunci ke tetangga aja….
    bisa buka jendela, ganti udara, sekalian di pel, dilap-lap hihihi

    EM

  18. husen HD

    asyik tuh……

  19. Hmm it appears like your site ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I wrote and say, I’m thoroughly
    enjoying your blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still new to the whole thing. Do you have any helpful hints for first-time blog writers? I’d definitely appreciate it.

  20. nalo

    Keramik di keraton kasepuhan terdiri dari biru-delft yang diperkirakan dari abad ke-17 Masehi, dan keramik yang berwarna coklat-putih ini bernama jesuit ware, dimana terdapat cerita-cerita dari kitab injil dari abad ke 17-19 Masehi. Kita juga melihat dalam keraton kasepuhan pada bagian Siti Inggil bahwa terdapat juga keramik-keramik Cina yang diperkirakan abad 16-17 Masehi masa peralihan dari dinasti ming ke qing.

  21. Hi there to every one, it’s in fact a good for me to pay a quick visit this web site, it contains important Information.

  22. I was recommended this website by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my
    trouble. You are amazing! Thanks!

  23. Arsitektur tembok dan gapura kunonya keren……..Dengan bata merah. Orang dulu memang …….Pokoknya kagum sekali. Pingin rasanya buat rumah dengan beteng seni dan ada gasebonya. Datang juga ke manjimatan imogiri.

  24. like believe that the man is the better she ever found.
    Perhaps your family might or probably won’t setup an all in one romantic dinner gorgeous honeymoons too several everywhere within the he or she favorite place. Make sure they watch the replays maybe once or twice, to allow them to keep the magnitude of what just took place.

  25. esa

    lukisan prabu siliwangi bukn lukisan kuno pada masanya,blum ditemukan gambar atau lukisan kuno asli. Nama2 Ktrunan parebu Walang Sungsang siapa saja?ada gak naskah kuno asli brbahasa braksara sunda yg brisi prnikhan parebu siliwangi dgn nyi subang larang n pndirian n pngangktan Walang Sungsang sbagai parebu brgelar Sri Mangana?.Ada bukti naskah kuno masa tu yg menulis bahwa parebu siliwangi bragama hindu?atau bragama sunda wiwitan?.trmksh.

  26. esa

    Bukti pristiwa2 penting dalam sejarah yang sah itu dari naskah2 kuno braksara sunda,jawa dan arab pegon yg ditulis pada masa itu oleh juru2 tulis kerajaan2 brcap stempel kerajaan2. Oh iya..kok gak ada foto mahkota kepala prabu sri mangana cakrabuana walangsungsang haji abdullah iman mbah kuwu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: